Tomat, Si Merah Lucu Alternatif MSG

"MSG yang disintesis berasal dari sumber alami yang tidak membahayakan."
Ilustrasi (pixabay.com)

Oleh: Abbya Pratiwi Ramadhani

Mahasiswa Jurusan Teknologi Pangan, Fakultas Teknologi Industri Pertanian, Universitas Padjajaran

MSG (monosodium glutamate) sudah menjadi sesuatu yang tidak asing lagi bagi masyarakat Indonesia, biasanya, MSG digunakan sebagai penyedap rasa untuk makanan contohnya saja yang terdapat pada mie instan.

Kandungan yang terdapat pada MSH yaitu asam glutamate, sodium, dan air. Asam glutamate inilah yang memunculkan rasa umami. Diperbolehkan/ tidaknya keberadaan MSG ini masih diperdebatkan, MSG pada awalnya ditemukan oleh peneliti Jerman pada tahun 1866 yang didapat dari bahan alami yakni tepung gluten, dilanjutkan dengan penemuan oleh Kikunae Ikeda pada tahun 1908 yang berhasil mengisolasi asam glutamate yang terdapat dat tumbuhan laut di Jepang.

Pada dasarnya MSG yang disintesis berasal dari sumber alami yang tidak membahayakan. Namun beberapa sumber menyatakan terdapat efek jangka pendek dan panjang apabila terlalu sering mengkonsumsi MSG dan mengkonsumsi MSG sintesis dalam jumlah yang besar.

Contoh dampak MSG jangka pendek yang ditemkan yaitu perut mual, sakit kepala, mudah mengantuk, keringat berlebihan, wajah dan leher terasa panas, wajah kaku, jantung berdetak kencang, serta sulit bernapas.

Untuk efek jangka panjang, ditemukan bahwa MSG sintesis menyebabkan kegemukan, kerusakan otak, membuat ketagihan produk fast food, dan hambatan kecerdasan.  Oleh sebab itu, untuk mengurangi efek buruk, pemakaian MSG ada batasannya nih, batasan maksimal konsumsi MSG yang diperbolehkan menurut WHO (World Health Organization) yaitu sebaganyak 6 gram perhari, sedangkan menurut Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia (BPOM RI) nomor 23 ... Baca halaman selanjutnya