Evaluasi Pencegahan Penyebaran COVID-19 di Lingkungan Pasar

Pasar Raya Padang
Pasar Raya Padang (KLIKPOSITIF)

Artikel ini ditulis oleh Dr. Eng Zulkarnaini, penulis adalah pengajar di Fakultas Teknik Lingkungan Universitas Andalas. Tulisan ini juga merupakan tugas kelompok Mahasiswa Universitas Andalas Jurusan Teknik Lingkungan Angkatan 2017 sebagai tugas Ujian Akhir Semester dengan Mata Kuliah Kesehatan Lingkungan Kerja.

KLIKPOSITIF - Corona Virus Disease (COVID-19) telah dideklarasikan sebagai Darurat Kesehatan Masyarakat secara Global (Global Public Health Emergency) oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 30 Januari 2020. COVID-19 adalah penyakit menular yang disebabkan oleh jenis corona virus yang baru ditemukan dan terjadi di banyak negara di seluruh dunia.

baca juga: Ada 2 Penambahan Positif COVID-19 di Sumbar, Jubir: Dari Limapuluh Kota dan Padang

Pandemi COVID-19 ini telah merubah tatanan hidup manusia dari segala aspek kehidupan. Adanya virus ini mengharuskan kita untuk stay at home dan saling menjaga jarak. Namun anjuran tersebut tidak berlaku untuk semua orang, kebutuhan ekonomi yang mendesak membuat kalangan kecil seperti pedagang pasar membuat mereka tetap berjualan ditengah pandemi.

Kondisi ini justru menjadi problema bagi pemerintah karena semakin sering terjadi kontak fisik maka selama itu pula alur penularan COVID-19 semakin luas. Belum lagi banyaknya pedagang dan pembeli yang tidak mengindahkan himbauan pemerintah dalam upaya pencegahan COVID-19 yaitu untuk tetap Phisical Distancing dan menggunakan masker ataupun sarung tangan.

baca juga: Sekolah di Masa New Normal, Guru PAI Dituntut Lebih Proaktif

Tim peneliti sudah menganalisis upaya pencegahan dan penangan yang dapat dilakukan pedagang pasar dalam transmisi COVID-19, dengan tiga cara yaitu sebelum bekerja, saat bekerja dan setelah bekerja. Pencegahan sebelum bekerja seperti memeriksa keadaan tubuh apabila sedang sakit dianjurkan untuk tidak bepergian terlebih dahulu, menyemprot lapak dengan desinfektan pada permukaan yang sering disentuh, menyiapkan dua tempat untuk uang pembayaran dan uang kembalian, membuat pembatas dengan jarak cukup memadai antara penjual dan pembeli, dan menyediakan sarana cuci tangan atau hand sanitizer untuk pelanggan sebelum melakukan transaksi jual-beli.

Saat sedang bekerja pedagang dan pembeli dapat melengkapi diri dengan APD seperti masker ataupun sarung tangan. Minta pembeli memasukkan uang pembayaran langsung ke dalam kantong atau kotak pembayaran. Transaksi yang memerlukan uang kembalian dapat diambil dari dompet, jika tidak memiliki uang kembalian semprot uang dari kotak pembayaran dengan desinfektan lalu gunakan. Menegaskan kepada pembeli agar tidak berkerumun. Setelah bekerja pedagang dapat membersihkan lapak dan menyemprot kembali lapak dengan desinfektan pada permukaan yang sering disentuh, melepas APD sebelum masuk ke dalam rumah, menyemprot uang dengan cairan desinfektan lalu angin-anginkan uang sampai kering, memisahkan dan mencuci pakaian ataupun masker kain, dan menyegerakan mandi menggunakan sabun.

baca juga: Jumlah Kasus Terus Bertambah, WHO Sebut Pandemi Bisa Makin Memburuk

Peneliti telah melakukan penelitian pada 80 masyarakat yang tinggal di sekitar pasar ataupun yang pernah melakukan kegiatan jual beli di pasar-pasar yang ada di Sumbar,. Hasilnya, lebih dari 80 persen responden mengungkapkan masih sering terjadi kerumunan. Pada penelitian tersebut, sekitar 61 persen responden merupakan perempuan. Selain bekerja sebagai pedagang pasar, pengunjung pasar umumnya bekerja sebagai Ibu rumah tangga, buruh, pegawai swasta, dan mahasiswa.

Selain itu, ada sekitar 5 persen dari masyarakat tersebut sedang mengalami sakit flu, demam, sesak nafas namun tetap bepergian ke pasar, meskipun terbilang kecil angka ini cukup mempengaruhi transmisi virus apabila suspect berinteraksi dengan orang lain. Langkah pencegahan virus oleh pengunjung pasar dengan menggunakan masker dan mencuci tangan sudah terlaksana cukup baik, hal ini dibuktikan dengan besarnya angka sekitar 50 persen penguna masker dan hampir 98 persen pengunjung menggunakan hand sanitizer sebelum dan sesudah berinteraksi degan orang lain.

baca juga: Pandemi COVID-19, Momentum Transisi ke Energi Terbarukan

Akan tetapi, masih kurang dari 50% persen pedagang yang menyemprotkan lapaknya dengan desinfektan serta memberi jarak antar penjual dan pembeli. Hal ini juga dapat memicu penyebaran virus saat berbelanja di lapak yang kurang bersih, apalagi jika kesadaran masyarakat untuk waspada masih jauh dari yang dibayangkan.

Berdasarkan data survei tersebut dapat disimpulkan, sebagian pedagang/pengunjung pasar di Sumatera Barat sudah menerapkan protokol panduan kerja di lingkup pasar dalam upaya pencegahan corona virus. Akan tetapi pelaksanaannya masih belum maksimal, sehingga pedagang maupun pembeli masih sangat rentan terpapar corona virus karna masih sering terjadi kerumunan.

Hal ini didukung dengan data yang dihimpun oleh Ketua Infokom Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (Ikappi) Reynaldi Sarijowan pada Rabu, 3 Juni 2020 yang lalu yaitu Jumlah kasus yang ditemui yaitu 113 kasus terjadi di Pasar Raya Padang yang mana orang orang diantaranya meninggal dunia karena Corona ,

"Yang mana hampir 1/3 dari seluruh kasus positif Kota Padang saat itu," tutur Reynaldi.

Keterangan:

Anggota kelompok yakni Fajri Dwi Arya (1810941015) Keslingker C, M. Sultan Iktiar (1710941003) Keslingker C, Rani Ayu Nelasari (1710941013) Keslingker B, Paska Rina (1710941022) Keslingker B, Baihaqhi Hakim (1710942006) Keslingker C, Agha afdhala (1710943012) Keslingker B, Exhelora via aulia (1710943015) Keslingker B, Nurvadilla Dwi Danisa (1710943017) Keslingker B.

Editor: Khadijah